LOKUSNEWS.ID – Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan dukungannya terhadap usulan gencatan senjata yang diajukan oleh Amerika Serikat terkait konflik dengan Ukraina. Namun, dalam pernyataannya pada Kamis (14/3), Putin menegaskan bahwa Rusia membutuhkan klarifikasi lebih lanjut dan menetapkan sejumlah persyaratan tambahan. Sikap ini memperkecil kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, konflik berkepanjangan ini telah menelan ratusan ribu korban jiwa dan melukai banyak lainnya. Jutaan warga Ukraina terpaksa mengungsi, sementara berbagai kota hancur akibat pertempuran. Perang ini juga memperburuk ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat, memicu ketakutan akan eskalasi yang lebih luas.
Dukungan terbatas Putin terhadap proposal AS tampaknya bertujuan untuk menjaga jalur diplomasi tetap terbuka dengan Washington, khususnya menjelang kemungkinan diskusi lebih lanjut dengan Presiden AS Donald Trump. Namun, Putin menekankan bahwa setiap perjanjian gencatan senjata harus mengatasi akar masalah konflik yang telah berlangsung.
“Kami sepakat dengan gagasan penghentian permusuhan,” ujar Putin dalam konferensi pers di Kremlin, usai bertemu dengan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko.
"Ini adalah ide yang tepat, dan kami mendukungnya. Namun, kami menginginkan jaminan bahwa penghentian ini akan mengarah pada perdamaian yang langgeng serta mengatasi penyebab utama krisis ini.” lanjutnya
Putin juga menyebut adanya sejumlah poin yang masih perlu dikaji lebih dalam. Ia mengapresiasi Presiden Trump atas upayanya dalam mencari solusi damai, mengingat Trump menyatakan ingin dikenang sebagai pemimpin yang membawa perdamaian dunia.
Baik Rusia maupun AS saat ini melihat konflik ini sebagai perang proksi yang berpotensi membesar menjadi konfrontasi global. Presiden Trump sendiri menanggapi pernyataan Putin secara positif, menyebutnya sebagai sinyal yang menjanjikan. Ia berharap Moskow dapat mengambil langkah yang tepat demi kepentingan dunia.
Dalam upaya mewujudkan kesepakatan, Trump telah mengirimkan utusan khususnya, Steve Witkoff, untuk melakukan negosiasi dengan pihak Rusia di Moskow. Ia berharap hasil diskusi yang berlangsung pada Kamis akan memberikan kejelasan mengenai kesiapan Rusia dalam menerima kesepakatan tersebut.
“Saat ini kita akan melihat apakah Rusia benar-benar siap atau tidak. Jika tidak, ini akan menjadi kekecewaan besar bagi dunia, ” ujar Trump.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meragukan niat Putin dalam menerima usulan gencatan senjata. Menurutnya, Moskow berusaha menunda keputusan agar pertempuran tetap berlangsung lebih lama.
“Mereka ingin mengulur waktu dengan menetapkan syarat tertentu, sehingga tidak ada keputusan konkret yang diambil atau setidaknya tidak dalam waktu dekat,” kata Zelensky dalam pidato malamnya.
Penundaan ini dapat menguntungkan Rusia, yang masih berusaha mendorong pasukan Ukraina keluar dari wilayah yang diklaimnya. Moskow terus bersikeras agar Kyiv menyerahkan wilayah tersebut secara permanen, sebuah tuntutan yang secara tegas ditolak oleh Ukraina.
“Kita harus memastikan bahwa kesepakatan ini dapat berjalan dengan baik. Bagaimana kita bisa menjamin bahwa penghentian pertempuran ini tidak akan dimanfaatkan untuk keuntungan sepihak? Bagaimana mekanisme kontrolnya?” tanya Putin.
Putin juga menyatakan kemungkinan untuk menghubungi Trump guna mendiskusikan lebih lanjut rencana gencatan senjata ini.
Saat ini, Ukraina hanya menguasai kurang dari 200 kilometer persegi wilayah di Kursk, jauh berkurang dari 1.300 kilometer persegi yang mereka kendalikan pada puncak pertempuran, menurut laporan militer Rusia.
Ikuti Kami