LOKUSNEWS.ID, Jakarta - Pemerintah kian percaya diri menatap masa depan ketahanan pangan nasional. Tak hanya berhasil menjaga swasembada, Indonesia kini bersiap melangkah ke tahap berikutnya: ekspor pangan.
Optimisme tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026. Di hadapan para pemimpin dunia, Presiden mengungkapkan capaian strategis berupa percepatan target swasembada beras yang semula diproyeksikan tercapai dalam empat tahun, namun berhasil diwujudkan hanya dalam satu tahun.
Keberhasilan ini, menurut Presiden, menjadi fondasi kuat untuk memperluas swasembada ke komoditas pangan lainnya. Ia meyakini dalam empat tahun ke depan Indonesia mampu mandiri dalam produksi jagung, gula, hingga sumber protein.
“Saya yakin dalam empat tahun ke depan, kita akan swasembada dalam produk pangan lainnya, jagung, gula, protein,” ujar Prabowo.
Dalam kesempatan itu, Presiden juga menegaskan bahwa keterbukaan terhadap perdagangan internasional bukanlah ancaman. Justru sebaliknya, integrasi ekonomi global dinilai selaras dengan sejarah panjang Indonesia sebagai bangsa pedagang.
“Kita adalah negara perdagangan selama ratusan tahun. Kita sekarang menyimpulkan perjanjian perdagangan bukan karena sedang tren, tetapi karena kita menganggapnya perlu. Kita percaya pada konsep saling menguntungkan,” tegasnya.
Prabowo menambahkan, perdagangan yang adil tidak akan menggerus kedaulatan negara. Indonesia, kata dia, memiliki visi menjadi negara modern yang terintegrasi dengan ekonomi global sekaligus bebas dari kemiskinan, yang ditopang oleh tata kelola pemerintahan yang baik.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Presiden menekankan pentingnya reformasi birokrasi, penyederhanaan regulasi, serta investasi berkelanjutan di sektor kesehatan dan pendidikan. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia terbuka terhadap investasi, baik asing maupun domestik, dengan syarat utama stabilitas, kepastian hukum, dan pemerintahan yang bersih.
Sejalan dengan arahan Presiden, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan swasembada beras yang dicapai pada 2025 tidak hanya dipertahankan, tetapi diarahkan menjadi pintu masuk ekspor.
“Kemarin sudah diumumkan swasembada pangan (beras) di 2025 dan itu kita pertahankan. Targetnya bukan hanya swasembada, tapi bisa ekspor,” ujar Sudaryono di Jakarta.
Optimisme tersebut disampaikan usai Rapat Serap Gabah 2026 bersama Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional, yang menyepakati target penyerapan gabah setara beras sebesar 4 juta ton sepanjang 2026. Menurutnya, capaian 2025 menjadi dasar untuk menjaga kesinambungan produksi sekaligus membuka peluang ekspor secara berkelanjutan.
“Apa yang sudah berhasil di tahun 2025 itu kemudian bagaimana menjadi autopilot,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan kesiapan institusinya mendukung agenda ekspor beras nasional. Bulog, kata dia, telah menyiapkan cadangan beras premium dalam jumlah signifikan.
“Bulog sudah menyiapkan 1 juta ton untuk ekspor nanti itu dengan kualitas premium,” ujar Rizal.
Dengan sinergi kebijakan dan kesiapan pelaksana di lapangan, pemerintah optimistis Indonesia tak hanya mampu berdiri kokoh dalam ketahanan pangan, tetapi juga tampil sebagai pemain baru di pasar pangan global.
Ikuti Kami