__temp__ __location__
`
Indonesia Bidik Peluang Baru di BRICS, Hadapi Tantangan dari Barat

Presiden Prabowo saat menghadiri rapat pleno KTT BRICS Ke-17 di Rio De Janeiro, Brasil, Minggu (6/7/2025).

Indonesia Bidik Peluang Baru di BRICS, Hadapi Tantangan dari Barat

LOKUSNEWS.ID, Dalam lanskap global yang semakin terfragmentasi, Indonesia memandang kelompok negara BRICS sebagai salah satu kunci untuk membuka pintu ke pasar-pasar baru. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan harapannya agar keanggotaan Indonesia dalam BRICS dapat memperluas jangkauan ekspor nasional ke negara-negara seperti Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan.

“BRICS diharapkan bisa menjadi solusi di tengah ketidakpastian global, dengan membuka pasar bagi produk Indonesia,” ujarnya dalam siaran resmi yang disampaikan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (7/7).

Lebih dari sekadar urusan dagang, keterlibatan Indonesia dalam forum BRICS juga menyentuh ranah geopolitik. Menteri Pertahanan sekaligus Presiden terpilih Prabowo Subianto menyuarakan dukungan terhadap perjuangan negara-negara berkembang, termasuk seruan untuk kemerdekaan Palestina. Ia menilai BRICS dapat berperan sebagai penyeimbang dalam sistem global yang selama ini dianggap berat sebelah.

Dalam forum tersebut, pemerintah Indonesia menegaskan perlunya konsolidasi di antara negara-negara global south. Bagi Airlangga, ini bukan hanya soal kekuatan ekonomi, tapi juga soal menjaga stabilitas dan menciptakan lingkungan pembangunan yang lebih adil.

“Semangatnya adalah bagaimana BRICS bisa berperan mendorong reformasi dalam sistem internasional dan memperkuat multilateralisme,” tegas Airlangga.

Namun, tidak semua negara menyambut geliat BRICS dengan tangan terbuka. Dari seberang Samudra Atlantik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman kebijakan ekonomi yang menyasar langsung ke jantung BRICS. Lewat media sosial pribadinya, Truth Social, Trump memperingatkan bahwa AS akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 10% bagi negara yang dinilai mendukung agenda "anti-Amerika" dari BRICS.

“Tak ada pengecualian. Setiap negara yang berdiri bersama kebijakan anti-Amerika akan menghadapi konsekuensinya,” tulis Trump dalam pernyataan yang tidak menyertakan detail lebih lanjut soal apa yang dimaksud dengan sikap anti-Amerika tersebut.

Pernyataan Trump menjadi penanda bahwa langkah Indonesia mendekat ke BRICS tidak hanya membawa peluang, tetapi juga risiko. Di tengah tarik-menarik kepentingan global, Indonesia kini dihadapkan pada pilihan strategis: menjajaki peluang baru di selatan dunia, sambil menjaga hubungan lama dengan kekuatan besar di utara.

Khamenei Peringatkan AS: Serangan ke Iran Bisa Picu Konflik Regional
Khamenei Peringatkan AS: Serangan ke Iran Bisa Picu Konflik Regional
Indonesia Mantap Menuju Ekspor Pangan, Swasembada Jadi Landasan Baru
Indonesia Mantap Menuju Ekspor Pangan, Swasembada Jadi Landasan Baru