Bill Gates dan Presiden Prabowo Subianto (Foto : Sekretariat Negara)
Harapan Baru Melawan TBC: Indonesia Jadi Garda Depan Uji Vaksin Masa Depan
LOKUSNEWS.ID, Jakarta - Di saat dunia mulai bangkit dari bayang-bayang pandemi COVID-19, satu ancaman lama masih menghantui: tuberkulosis. Penyakit paru-paru menular ini terus merenggut ribuan nyawa setiap hari, diam-diam, tanpa kehebohan global. Namun, di tengah keheningan itu, harapan baru muncul dari kolaborasi internasional — dan Indonesia menjadi bagian penting di dalamnya.
Sebuah vaksin TBC generasi baru, M72/AS01E, tengah memasuki babak paling krusial: uji klinis fase ketiga. Diprakarsai oleh Bill & Melinda Gates Foundation, uji coba vaksin ini kini berlangsung di lima negara dengan tingkat kasus TBC tinggi, termasuk Indonesia. Tak tanggung-tanggung, sekitar 2.000 warga Indonesia telah menerima suntikan vaksin ini sejak Maret 2024.
"Indonesia akan menjadi salah satu lokasi uji klinis vaksin TBC ini," ujar Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah konferensi pers, Rabu (7/5). "TBC merenggut hampir 100 ribu nyawa setiap tahun di negara kita, ini adalah langkah penting."
Dua wilayah di Indonesia telah ditetapkan sebagai lokasi pengujian, sebagai bagian dari upaya global untuk mengakhiri salah satu pembunuh paling mematikan dalam sejarah umat manusia. Vaksin M72 ini bukan barang baru—pengembangannya sudah dimulai sejak awal 2000-an. Namun kini, dengan dukungan lembaga-lembaga besar dan teknologi mutakhir, vaksin tersebut berpotensi menjadi game changer dalam perang melawan TBC.
Menurut Bill Gates, Indonesia dipilih karena dua alasan utama: tingginya beban kasus, serta kesiapan sistem kesehatan untuk melaksanakan uji coba besar-besaran. Selain Indonesia, India dan sejumlah negara Afrika juga berpartisipasi dalam program ini.
Dukungan pemerintah Indonesia tak berhenti di sana. Lewat program Cek Kesehatan Gratis yang sedang digencarkan, deteksi dini kasus TBC menjadi prioritas nasional. Ini sejalan dengan target ambisius: Indonesia bebas TBC pada tahun 2030, sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021.
Ina Agustina Isturini, Direktur Penyakit Menular Kemenkes, menyebut kehadiran vaksin ini sebagai "peluang besar" untuk menurunkan angka kasus dan kematian akibat TBC. “Jika uji klinis ini berhasil, kita bisa melihat penurunan signifikan dalam waktu lima tahun ke depan,” katanya dalam konferensi pers, Maret lalu.
Namun, jalan menuju eliminasi TBC tidak mudah. Tantangan utama datang dari distribusi vaksin, keterjangkauan harga, dan kesiapan masyarakat untuk menerima vaksinasi. Karena itu, edukasi publik akan menjadi senjata penting, tak kalah dari jarum suntik itu sendiri.
Tak hanya vaksin M72 yang tengah diuji. Indonesia juga terlibat dalam pengembangan dua vaksin TBC lainnya: vaksin mRNA BNT164a1 dari BioNTech, dan vaksin berbasis vektor virus AdHu5Ag85A dari CanSinoBio.
WHO bahkan memperkirakan, jika vaksin M72 disetujui dan berhasil didistribusikan secara luas, dunia bisa mencegah hingga 76 juta kasus TBC dalam 25 tahun ke depan—dan menghemat lebih dari USD 41 miliar dalam biaya penanganan penyakit.
Jika semua berjalan sesuai rencana, vaksin M72 akan tersedia secara luas mulai 2028. Dan jika itu terwujud, kita tidak hanya menyaksikan lahirnya vaksin baru — tetapi juga langkah besar menuju akhir dari wabah yang sudah dua abad menghantui umat manusia.
Ikuti Kami