Tim SAR saat melakukan pengecekan jaring tangkap ikan nelayan yang berada di permukaan di titik kapal tenggelam
Dua Korban Kapal Tenggelam di Talisayan Berau Ditemukan, Empat Nelayan Masih Hilang
BERAU – Empat hari sudah tim SAR berjibaku melawan ombak tinggi dan angin kencang di perairan Talisayan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Usaha tanpa henti itu akhirnya membuahkan hasil. Dua jasad nelayan kapal KMN Mina Maritim 148 yang tenggelam pada Minggu dini hari (27/10/2025), berhasil ditemukan.
Kabar penemuan itu disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, yang memimpin langsung operasi pencarian di laut. Ia mengatakan, kedua korban ditemukan pada Rabu (29/10/2025) di lokasi yang sama, hanya berselang beberapa jam.
“Ini sudah operasi hari keempat. Korban pertama ditemukan pada 76 jam dan korban kedua pada 86 jam di titik yang sama,” ujar Nofian, dengan nada lega bercampur duka.
Korban pertama ditemukan sekitar pukul 09.00 Wita. Kondisinya sudah sulit dikenali karena tubuh membengkak dan wajah rusak akibat terombang-ambing di laut. Menjelang malam, sekitar pukul 19.40 Wita, tim kembali menemukan jasad kedua yang kemudian diketahui sebagai juragan kapal.
“Yang pertama belum bisa diidentifikasi, sedangkan yang kedua teridentifikasi juragan kapal,” jelasnya.
Menurut Nofian, pencarian seharusnya berhenti pada pukul 17.00 Wita, namun tim memilih melanjutkan penyelaman karena mendeteksi adanya jaring nelayan besar di dasar laut. Dugaan mereka benar jaring sepanjang 700 meter dengan lebar sekitar 15 meter itu ternyata melilit bagian kapal.
“Kemungkinan besar jasad kedua itu terlepas dari lilitan jaring saat kami periksa di dasar laut,” tuturnya.
Tragedi tenggelamnya KMN Mina Maritim 148 terjadi pada Minggu subuh. Kapal yang membawa 14 nelayan itu dihantam ombak besar saat sedang melaut. Delapan orang berhasil menyelamatkan diri dengan berenang ke arah pantai, sementara enam lainnya sempat dinyatakan hilang. Kini, dua di antaranya telah ditemukan meninggal dunia, dan empat lainnya masih belum diketahui nasibnya.
“Cuaca saat itu benar-benar ekstrem. Angin kencang, ombak tinggi. Delapan korban selamat itu bisa bertahan karena mereka berenang hingga matahari terbit. Tapi faktor kelelahan, usia, dan lilitan jaring membuat yang lain tak sempat menyelamatkan diri,” terang Nofian.
Meski kondisi laut masih tidak bersahabat, tim SAR gabungan tetap melanjutkan operasi pencarian terhadap empat nelayan yang belum ditemukan.
“Hingga hari ini kami terus berupaya mencari korban lain, walaupun cuaca menjadi tantangan besar,” pungkasnya dengan nada tegas namun penuh empati.
Ikuti Kami