__temp__ __location__
`
Drama Tarif Dagang Memanas: AS Longgarkan Sanksi Global, tapi Hantam China Lebih Keras

Drama Tarif Dagang Memanas: AS Longgarkan Sanksi Global, tapi Hantam China Lebih Keras

LOKUSNEWS.ID, Samarinda — Dalam sebuah langkah yang mengejutkan namun penuh perhitungan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangguhan sementara tarif timbal balik terhadap puluhan negara di tengah eskalasi ketegangan dagang global. Namun, di balik gestur damai itu, tersimpan lonceng perang baru yang berdentang lebih keras ke arah China.

Lewat unggahan di media sosial miliknya, Truth dan dikutip dari New York Post pada Kamis (10/4), Trump menyatakan bahwa selama 90 hari ke depan, AS akan menurunkan tarif timbal balik sebesar 10% terhadap lebih dari 75 negara yang dianggap telah menunjukkan itikad baik dalam berdiplomasi. Ia mengklaim bahwa sejumlah negara tersebut telah mengirimkan perwakilan untuk membahas topik-topik pelik seperti manipulasi mata uang dan hambatan non-tarif.

“Saya telah mengesahkan penghentian sementara tarif ini, sebagai bentuk penghargaan atas pendekatan diplomatik mereka. Tarif akan diturunkan substansial dan efektif seketika,” tulisnya.

Namun, di sisi lain, tidak semua negara menikmati angin sejuk ini. Beijing justru didera badai tarif baru. Trump menyebut bahwa kurangnya "rasa hormat" dari pemerintah China terhadap mekanisme pasar global menjadi alasan utama di balik keputusan untuk menaikkan bea masuk terhadap barang-barang dari Negeri Tirai Bambu menjadi 125%.

“China harus sadar, masa-masa mereka mengeksploitasi AS dan negara lain sudah selesai,” tulis Trump tegas.

Sementara itu, dari Beijing, respon cepat datang dari Kementerian Luar Negeri China. Juru bicara Lin Jian menyampaikan nada kecewa sekaligus peringatan. Ia menyatakan bahwa jika AS benar-benar ingin berdialog, maka pendekatan yang mengedepankan saling menghormati dan kesetaraan mutlak diperlukan.

Tak tinggal diam, China pun mengumumkan tarif balasan yang cukup besar: 84% untuk produk-produk asal AS, mulai Kamis siang waktu setempat. Ini merupakan peningkatan tajam dari tarif sebelumnya yang berada di angka 34%.

“Jika AS bersikeras melanjutkan perang tarif dan perdagangan, kami akan membalas hingga titik terakhir,” tegas Lin.

China juga menuduh AS menyalahgunakan tarif sebagai alat tekanan maksimal, sebuah tindakan yang menurut mereka mencederai kedaulatan dan keamanan nasional.

“China tidak akan mundur. Kami memiliki fondasi ekonomi yang kuat, dan kepemimpinan Partai Komunis yang siap membawa negeri ini menghadapi tantangan apa pun,” ujar Lin.

Dalam pernyataannya, Lin menyoroti peran China dalam perekonomian global—dari kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dunia hingga komitmen terhadap perdagangan multilateral yang adil dan terbuka. Ia menggambarkan China sebagai kekuatan stabil di tengah dunia yang kian tidak menentu.

Ketegangan tarif ini menandai babak baru dalam hubungan AS-China, yang kini tidak lagi sekadar saling menekan, tapi mulai membentuk blok ekonomi dengan arah dan visi yang berseberangan.

 

Khamenei Peringatkan AS: Serangan ke Iran Bisa Picu Konflik Regional
Khamenei Peringatkan AS: Serangan ke Iran Bisa Picu Konflik Regional
Indonesia Mantap Menuju Ekspor Pangan, Swasembada Jadi Landasan Baru
Indonesia Mantap Menuju Ekspor Pangan, Swasembada Jadi Landasan Baru